Site icon masbidin.net

Kisah Masuk Islamnya Sang Khalifah Umar bin Khattab

<figure id&equals;"attachment&lowbar;893" aria-describedby&equals;"caption-attachment-893" style&equals;"width&colon; 953px" class&equals;"wp-caption aligncenter"><img class&equals;"size-full wp-image-893" src&equals;"https&colon;&sol;&sol;masbidin&period;net&sol;wp-content&sol;uploads&sol;2016&sol;10&sol;Khalifah-Umar-bin-Khattab-masuk-Islam&period;png" alt&equals;"kisah sang khalifah yang kedua" width&equals;"963" height&equals;"578" &sol;><figcaption id&equals;"caption-attachment-893" class&equals;"wp-caption-text">artikel&lbrack;dot&rsqb;masjidku&lbrack;dot&rsqb;id<&sol;figcaption><&sol;figure>Khalifah Umar bin Khattab  <strong>رضي<&sol;strong> <strong>الله<&sol;strong> <strong>عنه<&sol;strong> terkenal sebagai sosok yang berwatak keras dan bertubuh tegap&period; Pada awalnya &lpar;sebelum masuk Islam&rpar; kaum muslimin sering mendapati perlakukan kasar darinya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sebenarnya di dalam lubuk hati seorang Umar sering mengganjal perasaan-perasaan yang berlawanan&comma; antara kesenangan terhadap hiburan&comma; dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Selain itu ia juga sering merisaukan pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Muhammad <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong> itu lebih mulia dan lebih baik&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Hingga pada suatu hari sampailah beliau &lpar;Umar bin Khattab  <strong>رضي<&sol;strong> <strong>الله<&sol;strong> <strong>عنه<&sol;strong>&rpar; berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong>&period; Tetapi ketika di tengah jalan&comma; beliau dihadang oleh sahabat Abdullah an-Nahham al-&OpenCurlyQuote;Adawi dengan bertanya&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;ya Umar&comma; hendak kemana engkau&quest;”&comma;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Aku akan membunuh Muhammad”&comma; jawabnya&period;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Wahai Umar apakah engkau akan merasa aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh apabila engkau membunuh Muhammad &quest;”&comma;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Atau jangan-jangan engkau telah keluar dan meninggalkan agama nenek moyangmu&quest;”&comma; tanya Umar&period;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Maukah engkau aku tunjukkan yang lebih menakjubkan dari itu wahai Umar&quest;<&sol;p>&NewLine;<p>Sesungguhnya saudara perempuan dan iparmu telah murtad dan meninggalkan agama nenek moyangmumu”&comma; kata Abdullah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mendengar hal itu Umar langsung membelokkan arah menuju ke rumah adiknya &lpar;Fatimah binti Khattab bin Naufal Al-Quraisyi&rpar;&period; Saat itu di dalam rumah tersebut ada juga Khabbab bin Art yang tengah mengajarkan al-Quran kepada keduanya &lpar;Fatimah binti Khattab dan suaminya&rpar;&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tetapi ketika Khabbab menyadari kedatangan Umar&comma; ia segera bersembunyi di balik rumah&period; Sementara itu Fatimah&comma; segera menutupi lembaran al-Quran yang sedang ia baca&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Rupanya sebelum masuk rumah&comma; Umar telah mendengar bacaan Al Qur’an dari Khabbab&comma; lalu dia bertanya &colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Suara apakah yang barusan saya dengar dari kalian&quest;”&comma;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Tidak ada suara apapun kecuali obrolan kami berdua saja wahai Umar”&comma; jawab mereka<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Pasti kalian telah murtad&lpar;keluar dari agama nenek moyang&rpar;”&comma; tegas Umar dengan wajah geram&period;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Wahai Umar&comma; bagaimana pendapatmu bila kebenaran itu bukan berada pada agama nenek moyangmu&quest;”&comma; jawab suami Fatimah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mendengar jawaban itu&comma; Umar yang tengah marah langsung menendangnya dengan keras hingga terjatuh dan berdarah&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sontak Fatimah segera membangunkan suaminya yang berlumuran darah&comma; namun malah ditampar juga hingga wajahnya berdarah&comma; maka berkatalah Fatimah binti Khattab kepada kakaknya dengan penuh amarah&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Wahai Umar&comma; jikalau memang kebenaran bukan terdapat pada agama nenek moyangmu&comma; maka aku bersaksi bahwa tiada ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah&comma; dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah”<&sol;p>&NewLine;<p>Melihat adik perempuannya sendiri dalam keadaan berdarah&comma; muncul perasaan menyesal dan malu di hati Umar&period; Kemdian ia meminta lembaran al-Quran tersebut&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Tetapi Fatimah menolaknya dengan mengatakan bahwa Umar najis&comma; sedangkan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang telah bersuci&period; Kemudian Fatimah memerintahkan Umar untuk segera mandi jika ingin menyentuh Al Qur’an tersebut dan Umar pun menurutinya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Sesudah mandi&comma; Umar membuka lembaran Al Qur’an tersebut&comma; lalu membaca &colon; Bismillahirrahmaanirrahiim&period; Kemudian Umar berkomentar&colon; &OpenCurlyDoubleQuote;Ini adalah nama-nama yang suci nan indah”<&sol;p>&NewLine;<p>Kemudian beliau Umar terus membaca &colon;<br &sol;>&NewLine;<strong>طه<&sol;strong><br &sol;>&NewLine;Hingga ketika sampai pada ayat&colon;<&sol;p>&NewLine;<p><strong>إنني<&sol;strong> <strong>أنا<&sol;strong> <strong>الله<&sol;strong> <strong>لا<&sol;strong> <strong>إله<&sol;strong> <strong>إلا<&sol;strong> <strong>أنا<&sol;strong> <strong>فاعبدني<&sol;strong> <strong>وأقم<&sol;strong> <strong>الصلاة<&sol;strong> <strong>لذكري<&sol;strong><&sol;p>&NewLine;<p>Terjemahannya&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Sesungguhnya Aku ini adalah Allah&comma; tidak ada Tuhan &lpar;yang hak&rpar; selain Aku&comma; maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”<br &sol;>&NewLine;&lpar;QS&colon;20&semi; Thaha&colon; 14&rpar;<br &sol;>&NewLine;Berkatalah Umar&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Betapa mulia dan indahnya ucapan ini&period; Sekarang tunjukkan padaku di mana Muhammad berada”&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mendengar ucapan Umar tersebut&comma; Khabab bin Art keluar dari tempat persembunyiannya &lpar;di balik rumah&rpar; dan berkata&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Wahai Umar bergembiralah&comma; saya sangat berharap bahwa doa Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong> pada malam Kamis yang lalu merupakan doa untukmu&period; Beliau <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong> berdoa&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Yaa Allah&comma; muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dari dua orang yang lebih Engkau cintai&semi; Umar bin Khattab ataupun Abu Jahal bin Hisyam”&period; Saat ini Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong> sedang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Mengetahui dimana saat ini Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ <&sol;strong>berada&comma; Umar langsung bergegas menuju rumah tersebut dengan membawa pedangnya&period; Setiba di sana ia mengetuk pintu&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Seseorang yang berada di dalamnya&comma; berupaya untuk mengintipnya lewat celah pintu&comma; dilihatnya yang dating adalah Umar bin Khattab dengan wajah garang bersama pedangnya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Segera dia memberitahu Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ <&sol;strong>kemudian mereka berkumpul&period; Sahabat Hamzah <strong>رضي<&sol;strong> <strong>الله<&sol;strong> <strong>عنه<&sol;strong> bertanya&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Ada apa&quest;”<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Umar”&comma; mereka menjawab&period;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Umar&quest; bukalah pintu untuknya&comma; jika ia datang membawa kebaikan&comma; maka kita sambut&period; Namun jika ia datang membawa keburukan&comma; maka kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kemudian Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong> memberi isyarat supaya Hamzah menemui Umar&period; Lalu Hamzah pun segera menemuinya&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kemudian membawa Umar untuk menemui Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong>&period; Selanjutnya Rasulullah <strong>صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ<&sol;strong> memegang baju dan sulur pedangnya&comma; kemudian ditariknya dengan keras&comma; dan berkata&colon;<&sol;p>&NewLine;<p>&OpenCurlyDoubleQuote;Engkau wahai Umar&comma; apakah engkau akan terus seperti ini sampai kehinaan dan adzab Allah diturunkan kepadamu sebagaimana yang telah dialami oleh Walid bin Mughirah&quest;<&sol;p>&NewLine;<p>Yaa Allah inilah Umar bin Khattab&comma; Ya Allah&comma; kokohkanlah Islam dengan Umar bin Al-Khattab”&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Kemudian berkata Umar bin Khattab&colon;<br &sol;>&NewLine;&OpenCurlyDoubleQuote;Aku bersaksi bahwasannya tiada ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah&comma; dan bahwasannya Engkau adalah utusan Allah&period;<br &sol;>&NewLine;Kesaksian Umar tersebut langsung disambut gema takbir oleh orang-orang muslim yang berada di dalam rumah saat itu&comma; sampai-sampai suaranya terdengar ke Masjidil-Haram&period;<&sol;p>&NewLine;<p>Dengan masuk Islamnya Umar menyebabkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik&comma; namun sebaliknya bagi orang-orang muslim&period; Umar disambut dengan suka cita oleh kaum muslimin<&sol;p>&NewLine;<p>&nbsp&semi;<&sol;p>&NewLine;

Exit mobile version