kisah sang khalifah yang kedua

Kisah Masuk Islamnya Sang Khalifah Umar bin Khattab

kisah sang khalifah yang kedua
artikel.masjidku.id

Khalifah Umar bin Khattab  رضي الله عنه terkenal sebagai sosok yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin sering mendapati perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam lubuk hati seorang Umar sering mengganjal perasaan-perasaan yang berlawanan, antara kesenangan terhadap hiburan, dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin.

Selain itu ia juga sering merisaukan pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Muhammad صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ itu lebih mulia dan lebih baik.

Hingga pada suatu hari sampailah beliau (Umar bin Khattab  رضي الله عنه) berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ. Tetapi ketika di tengah jalan, beliau dihadang oleh sahabat Abdullah an-Nahham al-‘Adawi dengan bertanya:

“ya Umar, hendak kemana engkau?”,
“Aku akan membunuh Muhammad”, jawabnya.
“Wahai Umar apakah engkau akan merasa aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh apabila engkau membunuh Muhammad ?”,
“Atau jangan-jangan engkau telah keluar dan meninggalkan agama nenek moyangmu?”, tanya Umar.
“Maukah engkau aku tunjukkan yang lebih menakjubkan dari itu wahai Umar? Sesungguhnya saudara perempuan dan iparmu telah murtad dan meninggalkan agama nenek moyangmumu”, kata Abdullah.

Mendengar hal itu Umar langsung membelokkan arah menuju ke rumah adiknya (Fatimah binti Khattab bin Naufal Al-Quraisyi). Saat itu di dalam rumah tersebut ada juga Khabbab bin Art yang tengah mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah binti Khattab dan suaminya).

Tetapi ketika Khabbab menyadari kedatangan Umar, ia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara itu Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran yang sedang ia baca.

Rupanya sebelum masuk rumah, Umar telah mendengar bacaan Al Qur’an dari Khabbab, lalu dia bertanya :

“Suara apakah yang barusan saya dengar dari kalian?”,
“Tidak ada suara apapun kecuali obrolan kami berdua saja wahai Umar”, jawab mereka
“Pasti kalian telah murtad(keluar dari agama nenek moyang)”, tegas Umar dengan wajah geram.
“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu bila kebenaran itu bukan berada pada agama nenek moyangmu?”, jawab suami Fatimah.

Mendengar jawaban itu, Umar yang tengah marah langsung menendangnya dengan keras hingga terjatuh dan berdarah. Sontak Fatimah segera membangunkan suaminya yang berlumuran darah, namun malah ditampar juga hingga wajahnya berdarah, maka berkatalah Fatimah binti Khattab kepada kakaknya dengan penuh amarah:

“Wahai Umar, jikalau memang kebenaran bukan terdapat pada agama nenek moyangmu, maka aku bersaksi bahwa tiada ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah”

Melihat adik perempuannya sendiri dalam keadaan berdarah, muncul perasaan menyesal dan malu di hati Umar. Kemdian ia meminta lembaran al-Quran tersebut. Tetapi Fatimah menolaknya dengan mengatakan bahwa Umar najis, sedangkan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang telah bersuci. Kemudian Fatimah memerintahkan Umar untuk segera mandi jika ingin menyentuh Al Qur’an tersebut dan Umar pun menurutinya.

Sesudah mandi, Umar membuka lembaran Al Qur’an tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmaanirrahiim. Kemudian Umar berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang suci nan indah”

Kemudian beliau Umar terus membaca :
طه
Hingga ketika sampai pada ayat:

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

Terjemahannya:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(QS:20; Thaha: 14)
Berkatalah Umar:

“Betapa mulia dan indahnya ucapan ini. Sekarang tunjukkan padaku di mana Muhammad berada”.

Mendengar ucapan Umar tersebut, Khabab bin Art keluar dari tempat persembunyiannya (di balik rumah) dan berkata: “Wahai Umar bergembiralah, saya sangat berharap bahwa doa Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ pada malam Kamis yang lalu merupakan doa untukmu. Beliau صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ berdoa:

“Yaa Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab ataupun Abu Jahal bin Hisyam”. Saat ini Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ sedang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Mengetahui dimana saat ini Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ berada, Umar langsung bergegas menuju rumah tersebut dengan membawa pedangnya. Setiba di sana ia mengetuk pintu. Seseorang yang berada di dalamnya, berupaya untuk mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya yang dating adalah Umar bin Khattab dengan wajah garang bersama pedangnya. Segera dia memberitahu Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ kemudian mereka berkumpul. Sahabat Hamzah رضي الله عنه bertanya:

“Ada apa?”
“Umar”, mereka menjawab.
“Umar? bukalah pintu untuknya, jika ia datang membawa kebaikan, maka kita sambut. Namun jika ia datang membawa keburukan, maka kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ memberi isyarat supaya Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah pun segera menemuinya. Kemudian membawa Umar untuk menemui Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ. Selanjutnya Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ memegang baju dan sulur pedangnya, kemudian ditariknya dengan keras, dan berkata:

“Engkau wahai Umar, apakah engkau akan terus seperti ini sampai kehinaan dan adzab Allah diturunkan kepadamu sebagaimana yang telah dialami oleh Walid bin Mughirah? Yaa Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Al-Khattab”.

Kemudian berkata Umar bin Khattab:
“Aku bersaksi bahwasannya tiada ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasannya Engkau adalah utusan Allah.
Kesaksian Umar tersebut langsung disambut gema takbir oleh orang-orang muslim yang berada di dalam rumah saat itu, sampai-sampai suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Dengan masuk Islamnya Umar menyebabkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, namun sebaliknya bagi orang-orang muslim. Umar disambut dengan suka cita oleh kaum muslimin

 

Artikel Terkait:

Silahkan berkomentar dengan santun