kisah keteladanan ali bin abi thalib pada perang shiffin

Kisah Keteladanan Khalifah Ali bin Abi Thalib Istrinya Fatimah Az-Zahra pada Perang Shiffin

kisah keteladanan ali bin abi thalib pada perang shiffin
dokumen masbidin.net

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, ada banyak sekali terjadi fitnah. Seharusnya fitnah tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk mengambil hikmah demi menjaga persatuan umat. Ditengah-tengah egoisme kepentingan pribadi maupun kelompok.

Berbeda dengan tiga khalifah sebelumnya yang mendapatkan suara bulat dari dewan syura’. Di bai’atnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah tanpa adanya suara utuh, bahkan di dalam kota Madinah sendiri sekalipun.

Bukan karena tuduhan bahwa sayyidina Ali telah membunuh Utsman (naudzubillah kalau sampai kita mempercayainya)

Yang dituntut oleh sayyidah Aisyah pada perang Jamal ialah ketegasan Ali dalam menghukum kaum pemberontak yang telah membunuh sayyidina Utsman, sedangkan untuk bukti maupun terdakwa tentang siapa pelakunya sangat sedikit.

Kondisi Ali saat itu juga sedang dikepung oleh banyaknya kaum Munafik, hal ini dapat dimaklumi karena banyak sahabat yang pergi meninggalkan Madinah setelah Rasulullah wafat. Baik dari yang mati syahid ataupun menetap di daerah baru dengan tujuan meneruskan penyebaran Islam.

Alhasil, kaum muslimin di Madinah justru banyak orang-orang Munafik yang sejak zaman Nabi hidup sudah terlihat kemunafikannya (enggan untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah).

Maksud Ali bin Abi Thalib menunda mahkamah (Hadd) atas pembunuhan Utsman bin Affan ialah untuk menghindari perpecahan golongan antara Anshor dan Muhajirin di Madinah. Karena dengan akal-liciknya kaum munafik selalu berusaha untuk memisahkan tali silaturahim antara dua golongan ini.

Bahkan demi terlaksananya mahkamah ini, sayyidina Ali memindahkan pemerintahan ke tempat yang netral, Kufah supaya dapat terlepas dari pengaruh kaum munafik.

TIdak heran, apabila dikemudian hari, Muawiyyah mengikutinya juga dengan memilih untuk memindahkan  pusat pemerintahan ke Damaskus, dengan alasan untuk menghindari kaum munafik.

Kedudukan Ali saat itu juga diperparah dengan bertambah fanatiknya golongan Syi’ah Kadzabiyah (seperti gerakan Nabi Palsu dengan mencoba mengangkat Ali sebagai Nabi dan Putra Tuhan) telah ada dari zaman Abu Bakar.


Maksud Pawai Militer Muawiyyah


Pada awalnya maksud dan tujuan Muawiyah dengan 20.000 orang pasukan ialah untuk memberikan dorongan moral kepada Ali bin Abi Thalib yang sedang dikepung oleh golongan Munafikun.

Juga sekaligus untuk berjaga-jaga apabila mahkamah hadd dilaksanakan, kemudian terjadi perang saudara antara Muhajirin dan Anshor karena hasutan oleh kaum munafik. Muawiyah dapat dengan segera membantu meredam dengan pasukannya.

Muawiyah berniat memberikan dukungan moral dan menjaga independensi keputusan Ali berkaitan akan digelarnya mahkamah atas peristiwa pembunuhan Ustman. Namun  issu yang telah dihembuskan oleh kaum munafik (pimpinan Abdullah bin Saba’) ialah bahwa, Muawiyah bermaksud memberontak.

Maka atas dasar ini kaum munafik mendorong Ali bin Abi Thalib untuk keluar dan membatalkan mahkamah (Hadd) atas pembunuh Utsman dikarenakan ada pemberontak yang sedang menuju Madinah. Supaya bisa lolos dari hukuman.

Sebenarnya sayyidna Ali sendiri lebih suka menyambut pawai atas datangnya pasukan dari Damaskus sebagai tamu. Karena Ali mengetahui jelas, bahwa Muawiyah bukanlah sosok pemberontak, dan pasti memiliki maksud baik dari kedatanganya. Sebagaimana pujian beliau saat ditanya tentang sosok Muawiyah

“bahwa Muawiyah ialah orang yang paling baik adabnya diantara kami”

Namun salah seorang panglima dari pasukan sayyidina Ali merupakan golongan munafik sehingga malah memulai pertempuran terlebih dulu dan pecahlah perang Shiffin.


TAHKIM, Perdamaian Demi Terjaganya Keutuhan Ummat


Amr bin Ash merupakan salah seorang sahabat Nabi yang memiliki strategi perang dan politik hebat sehingga dikagumi oleh orang Romawi. Sehingga dapat membaca, bahwa perang ini merupakan buah dari provokasi  kaum Munafik.

Terlebih setelah sahabat Amar bin Yasir meninggal pada pertempuran. Tewasnya beliau memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kedua belah pihak, dimana sebelumnya Rasulullah صَلَّى اللهْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ  pernah berkata kepada Amar, bahwa dia tidak meninggal, kecuali apabila terbunuh antara dua kelompok orang-orang mukmin

Oleh Karena itu, Amr bin Ash berijtihad dengan memerintahkan seorang prajurit untuk menombak al-Qur’an dan mengangkatnya agar dapat menghentikan perang, kemudian melakukan evaluasi sekaligus mengidentifikasi mana yang benar-benar  golongan mu’min asli dan mana kaum munafik.

Karena kaum munafik pasti menginginkan perang terus berlanjut, sedangkan orang-orang mukmin pasti meletakkan senjata menunggu ijtihad dari para ulama dan umara’ sesuai al-Qur’an.

Selama berlangsungnya proses Tahkim dan musyawarah antara sahabat pilihan Nabi inilah, kebenaran nyata tentang orang mu’min sejati dan kaum munafikun terbongkar.

Kemudian orang mukmin meletakkan senjatanya dengan ikhlas, terlebih  yang berada di pihak Ali bin Abi  Thalib. Kaeran orang mukmin yang berada pada pihak Ali pasti menanggalkan egoisme pribadi mereka. Bahkan mereka dengan suka rela meletekkan senjata, meskipun kemenangan mereka sudah nyata-nyata di depan mata.

Sedangkan orang munafik, mereka tetap tidak rela untuk meletakkan senjata dan  kemudian terus membujuk Sayyidina Ali supaya melanjutkkan peperangan. karena kemenangan hanya tinggal selangkah lagi.

Namun Sayyidina Ali merupakan orang yang mengutamakan kepentingan umat dan persatuan umat. Sehingga untuk apa sebuah kemenangan, kalau persatuan dan kesatuan umat terkoyakan.

Sebenarnya hasil dari tahkim itu sendiri berisi, bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib ditetapkan untuk membawahi wilayah Iraq beserta penduduknya, sedangkan Muawiyah ditetapkan untuk membawahi wilayah Syam beserta para penduduknya, dan tidak diperbolehkan lagi ada pertempuran.

Namun fakta sejarah kemudian menjelaskan, bahwa saat itu Sayyidina Ali dikelilingi oleh golongan orang-orang munafik yang berperang untuk kepentingan pribadi. Bahkan dari penduduk Kufah sendiri juga mengkhianati beliau.